Rabu, 02 Mei 2012

UNSUR SUPRASEGMENTAL

Terjadinya Bunyi
Setiap hari tentu kita melakukan komunikasi, entah komunikasi lisan atau tertulis. Komunikasi lisan diwujudkan dalam bentuk dialog, baik yang dilakukan dua orang atau lebih, seperti bermusyawarah, berdiskusi, bertelepon, atau rapat. Sedangkan komunikasi tertulis diwujudkan dengan tulisan, seperti surat kabar, majalah, atau telegram. Informasi yang kita simak disampaikan melalui sejumlah bunyi bahsa dan unsur-unsur lain yang menyertainya.

Sumber energi utama dalam hal terjadinya bunyi bahasa ialah adanya udara dari paru-paru. Udara dih isap ke dalam paru-paru dan dihembuskan keluar bersama-sama waktu sedang bernafas. Udara yang dihembuskan (atau dihisap untuk sebagian kecil bunyi bahasa) itu kemudian mendapatkan hambatan di berbagai tempat alat bicara dengan berbagai cara, sehingga terjadilah bunyi-bunyi bahasa. Tempat atau alat bicara yang dilewati diantaranya: batang tenggorok, pangkal tenggorok, kerongkongan, rongga mulut; rongga hidung; atau baik rongga hidung bersama dengan alat yang lain. Pada waktu udara mengalir keluar pita suara dalam keadaan terbka. Jika udara tidak mengalami hambatan pada alat bicara maka bunyi bahasa tidak akan terjadi, seperti dalam bernafas (Marsono 1999:4). Menurut Ladefoged dalam Marsono (1999:4), bahwa syarat proses terjadinya bunyi bahasa secara garis besar dapat dibagi menjadi empat, yaitu: proses mengalirnya udara, proses fonasi, proses artikulai, dan proses oro-nasal.

Unsur Suprasegmental
Dalam arus ujaran itu, ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi (Abdul Chaer 2003:120). Bagian bunyi tersebut memiliki unsur-unsur bunyi bahasa yang menyertai pengucapan. Unsur-unsur bunyi bahasa itu antara lain:
1. lafal,
2. tekanan,
3. intonasi, dan
4. jeda.

Penjelasan hal di atas sebagai berikut:
1. Lafal
Lafal ialah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa (Kridalaksana 1993:124). Dalam bahasa tulis, lafal tidak terlihat dengan jelas. Lafal lebih tercermin dalam bahasa lisan. Misalnya kata tepat berbeda dengan cepat, guna berbeda dengan tuna, kerak berbeda dengan gerak.

Tidak ada pedoman khusus untuk mengatur lafal atau ucapan. Berbeda dengan sistem tata tulis yang di atur dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang harus dipatuhi setiap pemakai bahasa tulis bahasa Indonesia sebagai ukuran bakunya. Karena lafal sering dipengaruhi oleh bahasa daerah mengingat pemakai bahasa Indonesia merupakan masyarakat dwilingual yang dimana mereka masih sulit untuk meninggalkan bahasa ibu sehingga hal ini mewarnai penggunaan lafal bahasa Indonesia. Contoh: kata kenapa diucapkan oleh orang Betawi menjadi kenape. Pada masyarakat Jawa, khususnya daerah Jawa Tengah pengucapan huruf d sering diiringi dengan bunyi /n/, huruf b sering diiringi dengan bunyi /m/, misalnya Demak menjadi [ndemak], Blora menjadi [mblora] dan sebagainya.

2. Tekanan
Tekanan ialah ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian tersebut tampak lebih keras atau menonjol dari suku kata atau kata yang lain. Ketika mengucapkan suatu kalimat yang didalamnya terdapat kata yang penting biasanya kita akan menekan suku kata atau kata tersebut agar lawan tutur memahaminya dengan benar. Tekanan biasa juga di sebut aksen.

Perhatika contoh tekanan kalimat yang ditandai kata bercetak tebal miring di bawah ini!
1. Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan Anton)
2. Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan juara II)
3. Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan lomba baca puisi)

3. Intonasi
Intonasi ialah perubahan nada yang dihasilkan pembicara pada waktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya (Kridalaksana 1993:85). Intonasi biasa dikenal dengan lagu kalimat atau ketetapan penyajian tinggi rendahnya nada kalimat. Kalimat, jika diucakan dengan nada datar dapat mengandung maksud pemberitahuan. Akan tetapi jika diucapkan dengan nada tinggi dapat mengandung maksud kekaguman, keheranan, ataupun rasa ketidakpercayaan. hal ini tergantung pada situasi pembicara. Maka dari itu, dalam bahasa Indonesia terdapat tiga jenis intonasi di lihat dari maksudnya, yaitu:
a. Intonasi berita, digunakan untuk mengungkapkan pembicaraan yag berisi pemberitahuan tentang sesuatu. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda titik (.).
Contoh: Budi akan mengikuti olimpiade Fisika.
b. Intonasi pertanyaan, digunakan untuk bertanya tentang sesuatu (yang mengungkapkan maksud pembicara untuk memnita keterangan dari lawan tutur). Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda tanya (?).
Contoh: Mengapa datang terlambat?
c. Intonasi perintah, digunakan untuk mengungkapkan maksud pembicara agar lawan bicara melakukan suatu perbuatan. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda seru (!).
Contoh: Belajarlah dengan tekun!

Sedangkan dilihat dari lagu kalimatnya, yaitu:
a. Intonasi naik. Contoh: Apa maksudnya?
b. Intonasi datar. Contoh: Kita harus bekerja keras.
c. Intonasi menurun. Contoh: "Besok pagi pekerjaan ini seharusnya selesai,"kata ibu.

4. Jeda
Jeda ialah hentian dalam ujaran yang sering terjadi di depan unsur yang memunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah (Kridalaksana 1993:88). Biasa dikenal yang lebih ringkas yaitu hentian sebentar dalam ujaran. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring (/), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), atautanda hubung (-). Jeda sangat berpengaruh terhadap perubahan makna. Perhatikan contoh di bawah ini!
1. Kata adik, ibu Ani itu guru yang pandai.
2. Kata adik ibu, Ani itu guru yang pandai.
3. Kata adik ibu Ani, itu guru yang pandai.

Ketiga kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan itu dapat kita deskripsikan sebagai berikut:
Kalimat       Yang berkata                                Yang pandai
1                   Adik                                              Ibu Ani
2                   Adik ibu (Bibi/Paman)                    Ani
3                   Adik ibu Ani (adik dari Ibu Ani)   Seseorang (guru)

Semoga bermanfaat.
Artikel: http://na2ng-ismail.blogspot.com/
Selesai di tulis ketika Si Kecil sudah terlelap bersama Umminya.
Jurangjero Banjarejo Blora, 12 Rabi'ul Akhir 1432H/17 Maret 2011M
Penulis:
Abu Syifa' Nanang Ismail, S.Pd.

***
Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2003. Lingusitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia

Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

http://www.na2ngismail.net/2011/03/unsur-suprasegmental.html

4 komentar:

  1. postingan yang bagus pak buat tambahan referensi...
    smg modul" BI UT bsa anda posting di blog ini pak, terima kasih.

    UT Pokjar Kudus 2012.1 Kelas C

    kunjungi juga web saya pak, di :
    http://hanscorp.web.id/

    BalasHapus
  2. makasih banyak atas tulisannya, penjelasannya pake contoh jadi mudah saya pahami...

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus